Selasa, 17 November 2009

Beternak Lele, Bangun Usaha Selagi Muda

KOLAM itu kecil. Ukurannya hanya 8 m x 8 m saja. Tetapi di dalam air kehijauan dan bercampurkan lumpur itu, puluhan ribu ikan lele dumbo milik Bachtiar berebut pelet.
Mungkin kelihatannya tak seberapa, tapi jangan salah, usaha ternak lele dumbo Bachtiar, yang terletak tak jauh dari tempat tinggalnya, di Desa Sei Rotan, Batang Kuis, Deliserdang ini bisa mencapai keuntungan nyaris hingga 200 persen.


Berawal dari seminar-seminar enterpreneurship atau kewirausahaan yang pernah ia ikuti semasa ia masih kuliah, pria kelahiran 27 tahun lalu ini mencoba jalur alternatif selain bekerja untuk orang atau kantoran.

Usaha lele ini ia pilih karena menurutnya tidak sulit, tata cara ternak bisa ia dapatkan di buku-buku panduan yang banyak dijual di toko buku, disamping itu, lanjut Bachtiar, bisnis lele dumbo prospeknya cukup besar. “Lagi pula bisnis ini kan bisa disambil, perawatannya juga tidak sulit,” ujar pria yang kini bekerja di BMT Nurul Hijrah, Tembung.

Bersama kedua orang kawannya yang saat itu juga masih kuliah, Bachtiar membangun bisnisnya. Pada periode panen pertama, ia hanya memperoleh 25% keuntungan dari yang diharapkannya, dengan persentase modal yang kembali sebanyak 75% dari keseluruhannya. Suatu awal usaha yang menurutnya tidak terlalu merugikan. “Dulu saya belum tahu bibit mana yang bagus, makanya rugi, walau tak seberapa,” tuturnya menjelaskan. Secara berangsur-angsur, usaha Bachtiar ini pun stabil hingga kini.

Proses pengembangan lele ini menurut Bachtiar memang sederhana. Pertama ia menyiapkan kolam tanah. Kolam yang ia siapkan berukuran 8 m x 8 m dengan ketinggian sekitar 75 cm. Kolam tersebut sebenarnya memuat sekitar 8.000 bibit lele, namun periode masa pengembangan lelenya kali ini Bachtiar membeli 10.000 bibit lele dumbo, dengan harga Rp80 per ekornya.

Sebelum diairi, permukaan kolam terlebih dahulu diberi kapur dan dibiarkan selama 3 hari. Setelah itu, lapisi permukaannya dengan kotoran lembu yang sudah dibusukkan atau kotoran ayam, setebal kurang lebih 5 cm.

Pembusukkan kotoran lembu dilakukan selama 3 hari. Kotoran busuk ini fungsinya menyediakan makanan berupa plankton atau cacing untuk bibit lele, karena bibit-bibit lele yang baru menetas ini belum mampu makan pelet, makanan khusus yang terbuat dari campuran ikan cacah dan tepung ikan yang sudah dikeringkan.

Beruntung memang, kolam Bachtiar dekat dengan kandang ternak lembu milik sesama pelaku UKM binaan BMT Kube Nuansa Usaha Bersama 004, Batang Kuis, Deliserdang. “Jadi ya kita bisa saling bantulah, simbiosis mutualisme,” lanjutnya kemudian.
Baru setelah itu kolam diairi menggunakan mesin air, dan bibit lele dumbo sudah bisa dimasukkan.

Yang repotnya yaitu, jika si bibit lele ini sakit. Penyakit yang timbul, menurut Bachtiar, biasanya adalah jamur. “Kalau sudah sakit, biasanya ya harus diobati dengan obat tertentu,” jelasnya. Untuk mengantisipasi penyakit jamur pada bibit lele dumbo, Bachtiar menaburkan garam dapur pada kolam setelah mengairinya.

Setelah lele dumbo ini sudah besar, sekitar bulan ketiga, dipindahkan ke kolam beton, agar si lele tidak ‘melarikan diri’ masuk ke dalam tanah. Lele memang mempunyai sifat berenang ke dalam lumpur. Bagaimana cara memindahkannya? “Ya, sementara ini manual saja, kita masukkan ke dalam plastik-plastik, lele dumbo ini tidak menyengat kok, tidak seperti lele lokal,” ujarnya.

Satu hal yang harus diperhatikan adalah saat membeli bibit. Jenis bibit ini ada dua, yaitu bibit kawin suntik dan bibit kawin alami. Bibit yang dipilih Bachtiar adalah bibit kawin alami. Bibit kawin alami ini lebih bisa beradaptasi dengan lingkungan dibandingkan yang kawin suntik. “Yang kawin suntik itu lebih cepat mati, makanya waktu awal kita sempat rugi,” ujar alumni Fakultas Arsitektur Institut Teknologi Medan ini.

Pemasaran lele dumbo sejauh ini baru mencapai wilayah Deliserdang. Lele dumbo ini dijual kepada agen awalnya sekitar empat bulan yang lalu seharga Rp8.500 per kilogram atau sepuluh ekor lele dumbo, kini menurutnya harga itu naik mencapai Rp11.000


Bantuan Pinjaman BMT

Awalnya membangun usaha ternak lele dumbo ini, ia hanya bertiga, dengan kawan-kawan sesama mahasiswa. Kini di bawah suatu organisasi pembinaan UKM, BMT (Baitul Mal wat Tanwil) Kube (Kelompok Usaha Bersama) Nuansa Usaha Bersama 004, di Batang Kuis, Deliserdang, ada 13 anggota sesama pengusaha ternak lele dumbo.

Untuk meraup keuntungan sebesar itu memang bukan cara yang mudah. “Bersusah-susah dulu lah..”ujar Bachtiar. Pasalnya, memelihara lele dari bibit hingga laik panen dibutuhkan waktu dua setengah hingga tiga bulan. Sementara itu modal yang ia keluarkan pun tidak sedikit.

Baru dua periode panen ini ia meminjam modal dari BMT. Pinjaman yang Bachtiar dapat sebanyak Rp8 juta, yang harus ia cicil pengembaliannya setiap sehabis panen.
Bachtiar bersama kawan-kawannya tergabung dalam Forum Masyarakat Peduli Desa, sebelumnya mengajukan proposal peminjaman kepada BMT ini. Dari hasil pinjaman ini dibangunnya kolam tanah dan kolam beton, membeli bibit lele, pakan ternak lele, serta mesin air.

Pembagian hasil panen diberlakukan secara sistem bagi hasil. “Persentasenya disesuaikan dengan posisi masing-masing dalam tim binaan,” ujar lelaki yang juga ketua tim pengusaha lele binaan BMT tersebut.

Sumber :
rachmi ayu/hasan
http://www.medanbisnisonline.com/2009/08/31/beternak-lele-bangun-usaha-selagi-muda/
31 Agustus 2009

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar